Home > Berta Terkini > Ruang Karya > Ruang Opini > Sejarah Singkat
Mengulas 'Seni Toleransi' dalam Sarasehan Haul Gus Dur di Ponpes Miftahul Huda Indramayu
Penulis: fathurrohim - 28 Desember 2025
Home > Berta Terkini > Ruang Karya > Ruang Opini > Sejarah Singkat
Mengulas 'Seni Toleransi' dalam Sarasehan Haul Gus Dur di Ponpes Miftahul Huda Indramayu
Penulis: fathurrohim - 28 Desember 2025
Dokumentasi PC IPNU Indramayu
INDRAMAYU – Nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman kembali menggema di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Melalui kegiatan sarasehan dalam rangka memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pesantren tersebut menegaskan komitmennya dalam merawat kemajemukan bangsa.
Kegiatan yang berpusat di Aula Putri ini mengangkat tema besar "Seni Toleransi". Pemilihan tema tersebut bertujuan untuk membedah pemikiran Gus Dur yang selalu menempatkan perdamaian dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai fondasi utama dalam bernegara dan beragama.
Hadir sebagai narasumber utama, Kyai Jaka Ireng memaparkan esensi toleransi yang tidak hanya dipandang sebagai sikap pasif, melainkan sebuah seni dalam berinteraksi dan memahami sesama manusia. Dalam narasi yang disampaikan, ditekankan bahwa keberagaman merupakan anugerah yang harus dikelola dengan kearifan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sang Guru Bangsa semasa hidupnya.
Suasana di dalam Aula Putri tampak khidmat, dihadiri oleh para santri serta tokoh masyarakat setempat yang antusias menyimak ulasan mengenai moderasi beragama. Pembahasan mengalir pada pentingnya menjaga kerukunan di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, di mana nilai-nilai inklusifitas menjadi kunci untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa Gus Dur, sarasehan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda, khususnya para santri, agar memiliki pandangan yang luas dan terbuka. Melalui pendekatan "seni", toleransi diharapkan menjadi perilaku yang melekat dalam keseharian, bukan sekadar teori di atas kertas.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk almarhum Gus Dur, sembari membawa semangat untuk terus membumikan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan di tanah air, khususnya di wilayah Indramayu.